Kajian The Rabbaanians – Genggam Erat Hidayah-nya

whatsapp-image-2016-11-29-at-8-11-00-pm

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Pada kesempatan kali ini saya ingin membiasakan mendokumentasikan intisari dari kajian – kajian yang pernah saya ikuti, semoga bisa berguna bagi oranglain yang membaca. Kajian yang saya ikuti kaliini berjudul GENGGAM ERAT HIDAYAH-NYA dari Ustadz Mahfudz Umri, LC.

Hidayah memang sangat berharga sekali bagi kita maka dari itu kita genggam hidayah yang kita dapat seerat-eratnya. Akan tetapi kita harus bisa memastikan apakah hidayah yang kita terima itu bisa menyelamatkan kita atau malah sebaliknya. Berikut adalah intisari kajian dari yang saya ikuti di The Rabbaanians.

INTISARI KAJIAN
The Rabbaanians “GENGGAM ERAT HIDAYAH-NYA”
Ustadz Mahfudz Umri, LC
Rabu, 1 Rabiul Awwal 1438H (30 November ’16)

Kini kita akan bahas apa yang harus dilakukan ketika kita sudah menyambut sapaan hidayah, yakni sepatutnya kita GENGGAM ERAT HIDAYAH-NYA.

Mari kita ambil analogi ketika seseorang di ambang jatuh ke jurang yang dalam, kaki telah hilang pijakan dan hanya tangan yang sedang menggenggam tali tambang yang dapat membantu ikhtiarnya untuk selamat dari jatuh ke dasar jurang. Hampir bisa dipastikan, orang tersebut akan menggenggam tali tersebut dalam upaya maksimal, bahkan jika perlu gigit erat dengan gigi geraham sambil menarik dirinya ke bibir jurang.

Demikiannya hidayah, ketika hidayah menyapa maka genggamlah hidayah-Nya. Dan pastikan jangan sampai terlepas, karena jika sampai terlepas yakinilah: kebinasaan diri akan terjadi.

Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676.)

Lalu Kita Genggam Hidayah dengan Apa?
Jawabannya, genggamlah hidayah dengan ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu adalah:
– Apa yang difirmankan oleh Allah subhanahuwa Ta’ala;
– Apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam,
– Apa yang disampaikan oleh para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam
– Serta apa yang disampaikan oleh para ahli ilmu (ulama) dan orang-orang shaleh.

Karena sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat At Taubah ayat 33, Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan hidayah:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai. (QS At Taubah: 33)

Dan kembali Allah subhanahuwa Ta’ala mengingatkan betapa pentingnya kita untuk membekali diri dengan ilmu dalam firmannya surat Al Mujaadilah ayat 11:

‏﴿١١﴾ … يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجٰتٍ

Artinya: “… ALLAH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Awas, Jangan Sampai Salah Genggam
Kembali kepada analogi di atas, pastinya orang yang sedang bergantung dalam tali tersebut telah memastikan yang digenggamnya adalah tali tambang kokoh yang dapat menyelamatkannya. Bukan sebaliknya, seumpama ternyata adalah badan ular berbisa buas menyerupai besar tali tambang yang dapat menambah celaka dirinya.

Pun, ketika seseorang telah merasa mendapat hidayah, sudah tugas dirinya dengan bekal ilmu agama yang dimilikinya untuk memastikan yang digenggamnya dengan benar adalah hidayah Allah subhanahu wa Ta’ala.

Pun, ketika seseorang telah merasa mendapat hidayah semangat sholat, sudah tugas dirinya dengan bekal ilmu agama yang dimilikinya untuk memastikan ibadah sholatnya sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Artinya: “Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as-salafu ash-shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih). Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Demikianlah hal-hal di atas adalah sebuah kewajiban, bahwa kita harus menggenggam hidayah-Nya dengan Al quran dan As sunnah dalam keyakinan dan dalam akhlaq. Wajib kita menjauhkan dari hal yang syubhat, agar kita tidak sampai salah menggenggam hidayah-Nya. Utamakanlah kombinasi ilmu agama, keimanan dan pengamalan ilmu agar terjaga menggenggam hidayah-Nya dengan benar.

Agar kita dapat membedakan; mana itu tali, mana itu ular.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s